Tragedi Tewasnya Empat Mahasiswa Pejuang Demokrasi

Mei 12, 2020

Hai hai Sobat Uarnix, tahukah kalian peristiwa apa yang terjadi pada 12 Mei 1998 ? Yapp pada hari itu terjadi sebuah tragedi kelam, yang dinamakan Tragedi Trisakti.

Tragedi ini merupakan peristiwa penembakan terhadap mahasiswa yang berdemo menuntut Soeharto turun dari jabatannya. Aksi demo yang awalnya berlangsung kondusif, tiba - tiba berubah memanas dan menyebabkan beberapa mahasiswa terluka hingga ada yang meninggal. Siapa sajakah mereka ?

  1. Elang Mulia Lesmana
    Lahir : Jakarta, 5 Juli 1978 meninggal pada usia 19 tahun
    Meninggalnya seorang mahasiswa fakultas arsitektur ini diingat jelas oleh sahabat karibnya bernama Frankie. Malam sebelum tragedi tersebut, Elang menunjukan sifat yang berbeda dari biasanya. Sosok ceria dan pandainya menghilang, ia malah lebih banyak melamun.

Keesokan harinya, keduanya memang telah berniat untuk ikut dalam aksi demonstrasi di kampus. Frankie langsung mengeluarkan jaket almamater yang telah disiapkan, begitu juga seharusnya Elang. Tetapi ternyata Elang lupa untuk membawa jaket almamaternya, disitulah Frankie melihat sosok Elang yang seperti orang banyak pikiran hingga melupakan banyak hal.

Ketika suasana semakin memanas, aparat meminta demonstran untuk kembali masuk ke kampus. Melihat kondisi yang mulai tak terkendali Frankie berpesan kepada dua sahabatnya yakni Elang dan Adny, jika terpisah ketiganya berjanji akan berkumpul di pos satpam depan pintu kampus.

Frankie dan Elang terjebak tidak bisa memasuki gerbang kampus karena terdesak oleh kumpulan mahasiswa yang juga berebut masuk gerbang kampus. Akhirnya Frankie memutuskan untuk memanjat pagar kampus, dan bergegas menuju pos satpam seperti yang dijanjikan dengan sahabatnya. Namun, bukannya bertemu dengan Elang maupun Adny,  ia malah mendapat kabar bahwa Elang terkena tembak di bagian jantung. Dengan emosi, Frankie segera menuju RS Sumber Waras dan mendapati sahabatnya telah terbaring di kamar jenazah berbalut kain putih dengan tubuh kaku dan dingin.

Peluru Elang menembus jantung hingga punggung, bahkan pelurunya ditemukan di dalam tas punggung yang dibawanya. Di dalam tas itu juga ditemukan botol parfum yang juga pecah terkena peluru, parfum itu merupakan kado ulang tahun yang belum sempat ia berikan kepada teman wanitanya.

2. Hendriawan Sie
Lahir : Balikpapan, 3 Maret 1978 meninggal pada usia 20 tahun
Seorang dosen Universitas Trisakti, Heru P Sanusi ingat betul bunyi desing peluru tajam yang mengenai dinding kampus. Beliau pun menjadi saksi kebrutalan aparat yang menewaskan mahasiswanya. Ia mengangkat tubuh seorang mahasiswa yang tertembak di bagian lehernya. Mahasiswa itupun kemudian diketahui sebagai Hendriawan Sie. Ia segera dibawa ke RS Sumber Waras yang dekat dengan lokasi kampus namun nyawanya tak tertolong, Hendriawan pun dimakamkan di Jakarta Barat.

Untuk menghormati Hendriawan Sie, namanya pun dijadikan sebagai nama sebuah gedung fakultas ekonomi oleh pihak Universitas Trisakti.

Bahkan pemerintah Balikpapan mengabadikan namanya sebagai nama sebuah jalan di kota tersebut.

3. Hafidhin Royan
Lahir : Bandung, 28 September 1976 meninggal pada usia 21 tahun.
Ia merupakan mahasiswa fakultas teknik sipil Universitas Trisakti.
Pada saat tragedi Trisakti terjadi, ibu Hafidhin yang bernama Sunarmi tengah berada di Jakarta menemani saudara Hafidhin yang baru saja melahirkan. Setelah mendapat telepon dari seorang mahasiswa Trisakti, beliau pun bergegas menuju RS Sumber Waras dan menemukan anaknya telah terbujur kaku dengan luka tembak di kepala.

Sunarmi meyakini Hafidhin Royan ditembak peluru tajam. Beliau mengatakan lubang masuk peluru di kepalanya sebesar 0,6 sentimeter, ketika badannya dibalik batang otaknya sampai tersembul. Beliau juga menyebut darah tersebut mengenai ransel Hafidhin sebelum membercaki buku - buku di dalamnya. Bahkan sampai saat ini keluarga Hafidhin masih menyimpan diktat kuliah berbecak darah yang dibawa Hafidhin saat tragedi tersebut.

Ayah Hafidhin menjadi orang yang sangat terpukul atas kematian anaknya yang ditembak aparat. Hampir setiap menjelang tanggal 12 Mei sang ayah selalu merasa tak tenang. Sebab, setiap tahunnya kenangan yang hampir dilupakan beliau itu kembali tampak menjelang tanggal tersebut. Bahkan peristiwa itu juga memengaruhi kesehatan ayah Hafidhin hingga akhirnya beliau meninggal pada tahun 2006 lalu.

Bukan hanya ayahnya saja, adik bungsu Hafidhin yang kala itu masih duduk di kelas 1 SMA juga merasakan dampaknya. Menurut Sunarmi ibu Hafidhin, nilainya turun dan banyak merahnya. Dulu ketika ia tidak bisa, ia akan minta diajari oleh Hafidhin kakaknya.

4. Heri Hartanto
Lahir : 5 Februari 1977 meninggal pada usia 21 tahun.
Hery dikenal sebagai mahasiswa baik - baik, bahkan ia tak dikenal sebagai aktivis suatu organisasi apa pun. Meski begitu, ia mudah bergaul dan memiliki banyak teman.

Sifat kepeduliannya sangatlah kental, hal ini dibuktikan saat ia merintis usaha bengkel dan fotokopi. Usahanya itu dimaksudkan untuk menampung teman - temannya yang mengganggur dan tak mampu meneruskan kuliah. Bahkan ia pernah mengajukan proposal pinjaman sebesar 200 juta rupiah pada Bank Rakyat Indonesia. Namun, mimpi ini harus kandas bersama gugurnya ia dalam tragedi Trisakti.

Mahasiswa fakultas teknik mesin ini gugur setelah bagian tulang belakangnya tertembus peluru yang bersarang di dada bagian kiri.

Pada peringatan 60 tahun kemerdekaan Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan Bintang Jasa Pratama kepada Heri Hartanto dan ketiga rekannya yang gugur dalam Tragedi Trisakti ini.

-Lutfi

Sc :
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tragedi_Trisakti
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Elang_Mulia_Lesmana
https://id.m.wikipedia.org/wiktragedi-trisakti-dan-cerita-diktat-bernoda-darah-hafidhin-royan
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Heri_Hertanto
https://nasional.tempo.co/read/1088154/tragedi-trisakti-dan-cerita-diktat-bernoda-darah-hafidhin-royan
https://blog.tunaikita.com/yuk-kenali-sosok-4-pahlawan-reformasi-mei-1998/

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.