Sang Kampenye Cuci Tangan Abad Ke-19 Dianggap Gila

History Mei 20, 2020

Sudahkan kalian melakukan kebersihan tangan?

Mimin membahas pada abad ke-19, seorang dokter dianggap gila karena mengkampanyekan cuci tangan.

Nah, Berbeda dengan era abad ke 19, dimana kebersihan diabaikan. Namun Kebersihan di abaikan, semenjak merebaknya wabah covid 19. Pemerintah sangat gencar mensosialisasikan pentingnya mencuci tangan untuk memutus mata rantai virus tersebut.

Pada abad ke 19 rumah sakit tidak dianggap selayaknya rumah sakit pada umumnya, dimana rumah sakit lebih dikategorikan atau mendapat julukan sebagai rumah kematian bagi pasien sehingga pada saat itu, muncul stigma negatif pada beberapa orang dan mereka lebih memilih untuk merawat orang sakit di rumah.

Pada masa itu, rumah sakit sangat minim pengetahuan tentang kuman. Dimana rumah sakit identik dengan bau muntahan, air kencing, dan bahkan dokterpun jarang menjaga kebersihan pada diri mereka maupun pada alat-alat yang digunakan untuk melakukan tindakan medis. Hal ini tentunya sangat bertolak belakang dengan rutinitas tenaga medis saat ini. Dimana setelah mereka melakukan tindakan medis, mereka akan melakukan pembersihan pada diri mereka dan mensterilkan alat-alat yang digunakan untuk melakukan tindakan medis seperti operasi dll.

Disisi lain, dokter dari Hungaria yang bernama Ignaz Semmelweis yang bekerja di Rumah Sakit di Wina pada tahun 1840, keadaan yang tidak jauh dengan rumah sakit pada umumnya saat itu. memprihatinkan, dan pada abad ke 19 berketepatan adanya wabah miasma yaitu wabah polusi yang disebabkan partikel berbahaya dari berbagai macam bangkai makhluk hidup.

Dan penyumbang kematian terbanyak saat itu adalah ibu bersalin, terutama yang vaginanya sobek ketika persalinan. Karena dokter dan bidan pada saat itu tidak menggunakan sarung tangan sehingga luka yang menganga menjadi habitat ideal bagi bakteri miasma yang dibawa oleh dokter dan bidan tersebut.

Kemudian Ignaz Semmelwies memperhatikan Rumah Sakit di Wina dengan fasilitas yang sama namun yang membedakan adalah pengelolahnya yaitu mahasiswa kedokteran dan bidan, sedangkan dalam penanganan mahasiswa kedokteran mempunyai rasio kematian 98,4 per 1000 persalinan pada tahun 1847 karena penanganan yang kasar sedangkan bidan mempunyai 36,2 per 1000 persalinan. sehingga dokter Ignaz Semmelwies mengkritik mahasiswa kedokteran bahwa selama praktik persalinan penanganan kepada pasien buruk yang menyebabkan demam puerperal hingga kematian usai persalinan.

Ditahun yang sama, kolega atau teman kerja mahasiswa kedokteran meninggal akibat infeksi pada saat otopsi mayat usai persalin dan gejalanya sama seperti ibu usai persalinan di mahasiswa kedokteran namun bidan tidak melakukan otopsi, membuat Ignaz Semmelvies mendapatkan titik terang pada pristiwa tersebut.

Setelah itu Ignaz Semmelwies menarik kesimpulan bahwa ada materi infeksi yang mengkontaminasi ibu dalam persalinan,  yang menyebabkan demam puerperal dan kemudian Ignaz Sammelwies membuat larutan air kapur untuk Rumah Sakit di Wina untuk menerapkan cuci tangan di Rumah Sakit tersebut, lalu menerapkan prosedur pemberian antiseptik kepada mahasiswa kedokteran usai otopsi dan ketika memasuki ruang persalinan.

Setelah satu tahun mahasiswa kedokteran melakukan prosedur yang diberikan Ignaz Semmelwies, angka kematian pada ibu persalinan menurun dratis hingga 12,7 per 1000 persalinan pada mahasiswa kedokteran, berbeda dengan bidan melakukan tanpa prosedur dari Ignaz Semmelwies.

Dari kesimpulan yang ditarik, dokter Ignaz Semmelwies tidak bisa meyakinkan koleganya bahwa demam puerperal disebabkan kontak dengan mayat usai persalinan.

Lalu, Ignaz Semmelwies melontarkan kekesalannya dengan melabeli dokter yang tidak melakukan cuci tangan adalah pembunuh.

Namun gagasan tersebut dibantah oleh beberapa rekannya karena selama melakukan metode yang diberikan hasilnya mengecewakan, padahal selama melakukan metode tersebut prosedur yang  diberikan dokter Ignaz Semmelwies tidak dijalani dengan baik sehingga melakukannya dengan sembrono.

Adapula bantahan yang dilontarkan pada dokter Ignaz Semmelwies.
Dokter kandungan James Y. Simpson (1811-1870), dokter pertama yang memperlihatkan fungsi anastetis dari kloroform terhadap manusia, berpendapat bahwa penularan silang tak bisa dikendalikan.

Menurutnya rumah sakit secara berkala harus dihancurkan kemudian dibangun lagi.

John Eric Erichsen, seorang ahli bedah terkenal abad ke 19 - dan penulis buku The Science and Art of Surgery (1853), sepakat dengan Simpson.

Akibatnya Ignaz Semmelwies tak memperpanjang kontraknya dan kembali di negara asal kelahiranya Hungaria, menjabat suatu klinik persalinan yang kasusnya tidak jauh beda, dengan Rumah Sakit di Wina. namun semasa jabatanya dokter Ignaz Semmelwies berhasil menekan angka kematian tersebut.

Pada tahun 1861 dokter Ignaz Semmelwies menjadi kacau akibat dari kritik yang tak kunjung mereda dan keengganan kolega untuk mengadopsi methodenya. Lalu dokter Ignaz Semmelwies dimasuk rumah sakit jiwa oleh koleganya sendiri dengan menipu klik parktik kesehatanya, Ignaz Semmelwies sempat kabur dari rumah sakit jiwa namun usahanya gagal dan dia mendapatkan pukulan dari penjaga rumah sakit jiwa lalu mengkuncinya dikamar gelap.

Dua minggu kemudian dokter Ignaz Semmelwies meninggal dengan tragis akibat infeksi pada luka yang dideritanya.

Pada tahun 1880 antiseptiknya baru diperkenalkan di dunia kebidanan.

Oleh: Fajar F.

Follow IG : Uarnix.studio

Facebook : Uarnix Indonesia

Channel Youtube : Uarnix Studio

Sc:
https://www.bbc.com/indonesia/amp/majalah-49868385

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.