Prinsip "Lakukan Sesuatu"

Knowledge Jun 23, 2020

Pastinya kita pernah mengalami kondisi ketika sedang membutuhkan inspirasi dan motivasi, bukan? Lalu, salah satu teman kita menyarankan untuk pergi ke luar rumah dan menikmati pemandangan, sehingga nantinya akan mendapat inspirasi dan motivasi. Setelah tiga jam berlalu, kita memutuskan untuk pulang, dan hasilnya kita tidak mendapatkan apa-apa. Hmm... sepertinya ada yang salah dengan metode yang kita lakukan.

Jika kita ingin menuntaskan sesuatu, tetapi merasa tidak termotivasi atau terinspirasi, maka diri kita akan berasumsi bahwa diri sendiri payah. Pada saat kita berhasil mengumpulkan motivasi yang cukup, lalu mulai beranjak dari kasur hangat yang empuk dan mulai melakukan sesuatu, sejatinya kita sedang berada di lingkaran setan, seperti:

Inspirasi —> Motivasi —> Aksi —> Inspirasi —> Motivasi —> Aksi —> dst.

Namun, beda halnya ketika kita melakukan aksi terlebih dahulu. Karena tindakan bukan hanya efek dari suatu motivasi, juga dapat menjadi penyebab suatu motivasi. Seharusnya kita mulai mengubah alur orientasi pola pikir, menjadi:

Aksi —> Inspirasi —> Motivasi

Jika pribadi kita kurang motivasi untuk membuat suatu perubahan dalam hidup, maka "Lakukan Sesuatu", kemudian gunakan aksi sebagai cara untuk mulai memotivasi diri sendiri.

Pengarang Tim Ferris yang pernah menceritakan kisah seorang novelis yang telah menulis lebih dari tujuh puluh buku. Seseorang bertanya kepada sang novelis, bagaimana dia mampu menulis secara konsisten, dan tetap terinspirasi serta termotivasi. Dia menjawab, "Dua ratus kata yang kacau parah setiap hari, cuma itu". Idenya adalah bahwa jika dia memaksa dirinya sendiri untuk menulis 200 kata yang buruk sekalipun, itu akan lebih menginspirasinya untuk menulis, dan sebelum dia menyadarinya, dia telah menulis ribuan kata dalam satu halaman.

Prinsip "Lakukan Sesuatu" memang sulit pada masa-masa awal. Bahkan dapat membuat pencobanya cemas dan stres, tetapi apabila dilakukan secara konsisten justru akan sangat menguntungkan. Ketika kita mendapatkan pekerjaan yang lebih besar maka pekerjaan itu akan terlihat mudah. Sepertinya Prinsip "Lakukan Sesuatu" cocok untuk kita, sang makhluk santuy yang suka menunda-nunda pekerjaan.

Referensi:

Buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck, oleh Mark Manson.

-Layla

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.