Efek Pygmalion: Ekspektasi Feat. Realita

Jun 11, 2020

Efek Pygmalion: Ekspektasi Feat. Realita

Sering kita melihat, mendengar, bahkan mengalami sendiri suatu momen disaat ekspektasi yang kita pikirkan tidak sesuai dengan realita ynag terjadi di lapangan. Walaupun begitu, ada loh satu teori dalam dunia psikologi yang tidak mengenal konsep tersebut, malah sebaliknya! Teori tersebut dikenal dengan teori efek Pygmalion, lebih jelasnya simaklah pembahasan berikut!

Sebagai murid pernahkah kamu punya guru yang menyenangkan, yang penuh dengan aura optimistis, yang menurutmu cara mengajarnya benar-benar bagus sampai kamu merasa semangat dalam belajar, ingin selalu mendapat nilai sempurna, ingin membuat guru tersebut bangga, dan tidak ingin membuatnya kecewa?

Atau malah kebalikannya, gurumu tidak bisa membuat suasana belajar yang menyenangkan cenderung membuat bosan, selalu berwajah masam, membuatmu merasa pesimis bisa menguasai pelajaran, sampai kamu merasa kalau kamu tidak memiliki kemampuan sama sekali dalam bidang tersebut, dan ingin berhenti mengikuti kelas sang guru?

Tahukah kamu kedua kondisi tersebut erat kaitannya dengan efek Pygmalion?

Apa itu efek Pygmalion atau Pygmalion effect?

Teori ini berawal dari sebuah mitologi Yunani yang menceritakan seorang pemuda pemahat patung terkenal bernama Pygmalion. Buah karyanya sangat bagus. Namun, bukan bakat itu yang membuatnya dikenal dan disenangi banyak orang. Pygmalion dikenal sebagai pemuda yang selalu berfikiran positif, memandang segala sesuatu dari sudut pandang yang baik.

Jika dia mendapati lapangan tempat bermainnya becek tergenangi air hujan alih-alih mengeluh dia lebih memilih berfikir “Untungnya lapang lain tidak becek seperti ini”. Jika dia menjadi korban copet alih-alih menyumpahi si pencuri tertabrak kuda, jatuh ke jurang, lalu diterkam buaya, Pygmalion malah merasa kasihan karena itu berarti si pencuri tidak mendapatkan pendidikan dan pemenuhan kebutuhan yang baik di rumahnya.

Hingga suatu ketika, dia membuat sebuah patung gadis yang amat cantik. Patung itu sangat realistis dan terlihat seperti gadis cantik sungguhan. Orang lain berfikir “secantik-cantiknya patung itu, tetap saja bukan manusia” tapi berbeda dengan Pygmalion dia memperlakukan patung itu seolah-olah manusia asli dengan perasaan yang tulus. Hal itu mengundang decak kagum para dewa di Gunung Olympus. Lalu untuk menghargainya, mereka memutuskan untuk memberi anugerah kepada Pygmalion, yaitu mengubah patung tersebut menjadi manusia sungguhan. Begitulah, Pygmalion hidup bahagia dengan gadis yang kemudian menjadi isterinya yang konon adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.

Dari sanalah muncul teori efek pygmalion yang menggambarkan dampak dari pola berfikir positif.

Robert Rosenthal mendefinisikan Pygmalion effect sebagai “the phenomenon whereby one person’s expectation for another person’s behavior comes to serve as a self-fulfilling prophecy” artinya “sebuah fenomena dimana ekspektasi seseorang terhadap tingkah laku orang lain akan menjadi sebuah self-fulfilling prophecy”. (American Psychologist 58.3 [November 2003], p. 839)

Self-fulfilling prophecy singkatnya adalah suatu istilah untuk mengungkapkan 'Apa yang kamu pikirkan, rasakan, dan inginkan, itulah yang akan kamu peroleh'.

Dengan kata lain, harapan tentang suatu obyek baik berupa prediksi positif maupun negatif, seperti terhadap seseorang atau peristiwa, dapat memengaruhi perilaku kita terhadap obyek itu, yang menyebabkan harapan tersebut dapat direalisasikan.

Efek pygmalion bisa kita gambarkan seperti sebuah lingkaran atau siklus berikut:

1. Berawal dari keyakinan atau ekspektasi kita terhadap seseorang akan mempengaruhi perilaku kita terhadap orang tersebut (misal: karena berfikir Surti itu cantik, Asep mengajaknya berpacaran)

2. Prilaku kita akan mempengaruhi keyakinan orang tersebut tentang dirinya sendiri (Karena ditembak Asep, Surti merasa dirinya memang cantik)

3. Akibatnya, keyakinan tersebut akan mempengaruhi prilakunya terhadap kita (Karena Surti merasa cantik, setelah berpacaran dia mulai percaya diri, berani menghias diri, dan mengenakan baju bagus setiap kali bertemu Asep)

4. Prilaku tersebut akan menguatkan anggapan atau keyakinan pertama kita terhadap orang tersebut. (Asep yang dari awal sudah berfikir Surti itu cantik semakin yakin bahwa Surti memang cantik)

Nah, lalu bagaimana jika ekspektasi yang menjadi awal siklus tersebut merupakan ekspektasi negatif?

Yap. Hasilnya (baca: realitanya) pun akan negatif. Misalkan seorang guru sebut saja namanya Mr. Mawar mendapat tugas untuk melatih basket seorang murid yang terkenal bebal, nakal, dan kurang pandai, sebut saja si A. Mendengar kabar tersebut Mr. Mawar sudah memproyeksikan apa yang akan terjadi selama proses pelatihan. Kira-kira begini isi pikirannya: Anak nakal biasanya tidak disiplin waktu, sudah pasti dia akan sering telat. Biasanya anak seperti ini akan sulit diatur, hah! aku paling malas mengurus anak seperti itu. Yah.. bagaimana lagi? sudahlah! Bagaimanapun hasilnya, yang penting aku sudah melatihnya. Lagipula anak nakal seperti itu sudah pasti tidak berbakat.

Pemikiran tersebut berkonotasi negatif yang mana berdasarkan teori efek pygmalion akan mempengaruhi prilaku Mr. Mawar terhadap si A. Hasilnya, Mr. Mawar selalu terlihat emosi dan tidak sabaran saat melatih si A. Si A pun mulai menganggap bahwa Mr. Mawar tidak seperti yang orang ceritakan, katanya Mr. Mawar itu asyik dalam mengajar, tapi nyatanya marah-marah melulu, si A pun menjadi malas, tidak semangat dan asal-asalan dalam berlatih. Akibatnya, selama satu bulan berlatih intensif, si A sering datang terlambat dan kemampuan basketnya tetap pas-pasan sementara Mr. Mawar semakin yakin bahwa si A yang nakal memang tidak disiplin dan tidak berbakat.

Sampai sini sudah jelas terlihat seberapa penting peran sebuah prasangka, ekspektasi, sugesti –atau  apapun kamu menyebutnya-  bukan hanya dalam kehidupan kita namun bahkan terhadap kehidupan orang lain.

Tidak hanya berlaku pada ekspektasi terhadap orang lain, lebih dalam lagi efek ini juga berlaku pada ekspektasi terhadap diri kita sendiri yang pastinya akan berpengaruh pada cara kita memperlakukan diri. Beri asupan positif tentang semua usaha dan kerja keras yang sudah kita lakukan, maka yang timbul adalah sebuah apresiasi yang menjaga agar diri tetap termotivasi. Sebaliknya, jika kita selalu merasa kurang, merasa tidak mampu, bahkan mencap diri sendiri sebagai seorang pecundang yang tidak berharga, maka demotivasi dan perasaan putus asa bukan tidak mungkin selalu menghantui.

Oleh karena itu, ayo kita isi pikiran kita dengan hal-hal positif baik tentang orang lain ataupun tentang diri sendiri agar bisa menjadi awal sebuah kejadian baik bagi semua orang!

Ciao!! Selamat belajar di rumah!! #LoveYourself

-F-

Referensi:

Gambar : https://www.thebeautyoftravel.com/expectations-vs-reality-greatest-tourist-attraction-world/

http://warmada.staff.ugm.ac.id/Life/pygmalion.html

https://suyanto.id/pygmalion-effect-pada-pendidikan-dan-covid-19/

https://youtu.be/4aN5TbGW5JA

https://www.oxfordbibliographies.com/view/document/obo-9780199846740/obo-9780199846740-0014.xml#:~:text=Robert%20Rosenthal%20defined%20the%20Pygmalion,839).

http://rahmadillaa.blogspot.com/2018/08/psikologi-self-fulfilling-prophecy.html

https://www.kbmanage.com/concept/pygmalion-effect

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.